Friday, November 7, 2025

Senyum di Bineh Blang

Catatan sore dari bineh blang. Kadang, pelajaran terbaik datang bukan dari ruang rapat, tapi dari tanah, tawa, dan keringat lam blang.

Sore itu matahari lagi manis-manisnya. Cahayanya nyenggol dedaunan, bikin semuanya kelihatan kayak disaring pakai filter alami. Di tengah barisan sayur yang baru numbuh, aku berdiri sambil ngelihat warga sibuk di lahan. Ada yang nunduk tanam bibit, ada yang debat soal jarak tanam, katanya kalau terlalu rapat nanti rebutan oksigen. Wkwk, serius banget, kayak bibitnya lagi ujian napas.

“Pak, ini ditanam rapet apa renggang ya?” tanya satu ibu sambil ngelap keringat.
“Yang penting tumbuhnya bareng-bareng, Bu. Kayak kita,” jawabku sambil khem bacut, tapi langsung disambut tawa rame.

Hana yang hayee bak seupot nyan. Cuma tanah, peluh, dan canda receh yang entah kenapa rasanya lebih mahal dari kopi sanger pancong. Tapi di balik itu semua, aku sadar, beginilah bentuk perubahan yang pelan tapi nyata. Orang-orang belajar bareng, kerja bareng, dan pelan-pelan percaya sama diri mereka sendiri.

Kadang aku mikir, kerja pendamping tuh mirip kayak nanam bibit juga. Awalnya kecil, nggak kelihatan hasilnya, malah sering disiram kritik apalagi ada lalat mirah.. alahai han ek tapike. Tapi yang penting lama-lama, tumbuh juga kalau dirawat dengan hati. Karena yang kita dampingi bukan cuma program, tapi semangat hidup orang-orang di gampong.

Pas matahari mulai pamit di balik pohon kelapa, aku masih berdiri di sana. Lihat mereka beresin cangkul, bercanda, dan senyum puas. Aku ikut senyum juga, bukan karena hasil tanamnya udah panen, tapi karena sore itu aku ngerasa… rasaku juga ikut bareng mereka.


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari dalam masyarakat.”
Pramoedya Ananta Toer


Label: Cerita Lapangan, Pendamping Desa, Ketahanan Pangan, TPP Banda Aceh